Wapres Gibran Dukung Museum Asmat dan Sekolah Lapang Sagu, Perkuat Budaya serta Ketahanan Pangan Papua Selatan

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menerima audiensi Yayasan Widya Cahaya Nusantara di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026). Pertemuan membahas pengembangan Museum Asmat, Sekolah Lapang Sagu, serta upaya peningkatan kesehatan masyarakat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Foto: BPMI Setwapres.

Jakarta - Komitmen pemerintah dalam membangun Indonesia dari wilayah terluar kembali ditegaskan melalui dukungan terhadap pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat adat. Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, menerima audiensi Yayasan Widya Cahaya Nusantara di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat pembangunan berbasis budaya, sumber daya manusia, dan kemandirian ekonomi masyarakat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Sejumlah program strategis dipaparkan kepada Wapres, mulai dari pengembangan Museum Asmat hingga pelaksanaan Sekolah Lapang Sagu yang berorientasi pada ketahanan pangan lokal.

Langkah ini dinilai sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pelestarian budaya dan penguatan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Salah satu fokus pembahasan adalah pengembangan Museum Asmat yang diharapkan menjadi pusat dokumentasi, edukasi, sekaligus pelestarian seni dan tradisi masyarakat Asmat yang telah mendapat pengakuan internasional.

Bendahara Yayasan Widya Cahaya Nusantara, Evy Tjahyono, menyampaikan bahwa Wapres memberikan dukungan penuh terhadap upaya menjaga keberlanjutan tradisi seni pahat Asmat yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakat setempat.

"Wapres sangat mendukung dan memang harus dilakukan seperti itu supaya budaya memahat itu tidak hilang. Karena ini adalah harta karun sebenarnya bagi bangsa Indonesia," ujar Evy usai pertemuan.

Menurutnya, keberadaan Museum Asmat tidak hanya penting bagi masyarakat Papua Selatan, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.

Di tengah derasnya modernisasi, pelestarian budaya lokal menjadi isu strategis. Banyak karya seni Asmat yang selama ini dikenal luas hingga mancanegara, sehingga keberadaan museum dinilai penting untuk menjaga dokumentasi sekaligus transfer pengetahuan kepada generasi muda.

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menerima audiensi Yayasan Widya Cahaya Nusantara di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026). Pertemuan membahas pengembangan Museum Asmat, Sekolah Lapang Sagu, serta upaya peningkatan kesehatan masyarakat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Foto: BPMI Setwapres.

Selain pelestarian budaya, Yayasan Widya Cahaya Nusantara juga memaparkan perkembangan Program Sekolah Lapang Sagu yang telah berjalan di Asmat.

Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam bidang pertanian dan perikanan melalui pendampingan berkelanjutan. Pendekatan ini mendorong transformasi ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang selama ini belum dioptimalkan secara maksimal.

"Dengan program Sekolah Lapang Sagu itu kami berharap masyarakat yang tadinya adalah masyarakat peramu, kita ajarkan bagaimana untuk dapat mulai bercocok tanam, memelihara ikan," kata Evy.

Ia menambahkan bahwa masyarakat mulai merasakan manfaat program tersebut, terutama dalam pengelolaan kolam ikan yang mampu meningkatkan akses pangan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Bagi Papua Selatan, penguatan ketahanan pangan berbasis sagu memiliki nilai strategis. Sagu merupakan pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua dan dinilai mampu mendukung program diversifikasi pangan nasional.

Selain isu budaya dan ekonomi, audiensi juga membahas sejumlah tantangan sosial yang masih dihadapi masyarakat Asmat, terutama masalah kesehatan.

Yayasan Widya Cahaya Nusantara menyampaikan berbagai persoalan terkait stunting, sanitasi, dan malaria yang masih membutuhkan perhatian serius.

Menanggapi hal tersebut, Wapres Gibran disebut memberikan perhatian khusus terhadap percepatan penanganan stunting, peningkatan kebersihan lingkungan, serta pengendalian malaria di wilayah tersebut.

"Pak Wapres ingin sekali itu bisa terlaksana di sana. Dan juga malaria yang ada di sana, beliau juga ingin supaya kesehatan bisa diperhatikan," ungkap Evy.

Fokus pada kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dari strategi pembangunan Papua Selatan karena kualitas sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi maupun pelestarian budaya.


Pengamat pembangunan wilayah timur Indonesia menilai pendekatan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, ketahanan pangan, pendidikan masyarakat, dan kesehatan memiliki peluang besar menciptakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Program Museum Asmat dan Sekolah Lapang Sagu menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat diangkat sebagai fondasi pembangunan daerah. Di sisi lain, dukungan pemerintah pusat memberikan sinyal kuat bahwa pembangunan Papua tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan identitas budaya dan kualitas hidup masyarakat.

Turut hadir dalam audiensi tersebut Ketua Yayasan Widya Cahaya Nusantara, Brunoto Suwandrei Arifin, PIC Proyek Sekolah Lapang Sagu A. Cahyo Suryanto, PIC Proyek Museum Asmat Varani Kosasih, R.B. Heru Sasongko, serta mahasiswa binaan yayasan asal Suku Asmat, Kaletus Sakaro.(Ac)

Sumber Resmi:
Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden RI, Jakarta, 4 Juni 2026.

أحدث أقدم
sidoarjofile.com - Menguak Yang Tersembunyi