Menuju Eliminasi HIV/AIDS 2030, KKBS Banyuwangi Perkuat Strategi Presisi dan Integritas Staf


Roto : Badan Pembina KKBS H. Hariadji Sugito, SKM.MM didampingi Koordinator SSR KKBS Banyuwangi, Moch. Hairon, S.H,.bersama anggota


BANYUWANGI – Target ambisius pemerintah Indonesia untuk mengeliminasi HIV/AIDS pada tahun 2030 bukan sekadar angka di atas kertas bagi Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS) Banyuwangi. Di tengah dinamika tantangan lapangan yang kian kompleks, lembaga non-pemerintah ini memilih untuk memperkokoh fondasi internal melalui penguatan profesionalisme staf dan integritas kerja.

Dalam pertemuan strategis yang digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Selasa (14/4/2026), Badan Pembina KKBS H. Hariadji Sugito, SKM.MM didampingi Koordinator SSR KKBS Banyuwangi, Moch. Hairon, S.H,. menegaskan bahwa metode konvensional tak lagi memadai untuk mengejar target eliminasi tersebut. Ia mendorong penerapan pendekatan presisi melalui metode Man-Place-Time guna memetakan transmisi virus secara akurat.

"Fokus kita adalah komunitas rentan, mulai dari kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL), transgender, pengguna narkoba suntik, hingga pekerja seks. Untuk mencapai target 2030, dibutuhkan tim yang solid dengan profesionalisme yang terukur sesuai standar operasional prosedur (SOP)," ujar Hariadji di hadapan para pendamping lapangan.

Menambal Celah Operasional

Perjalanan menuju titik "Nol Infeksi Baru" diakui tidak selalu mulus. Hariadji mengidentifikasi sejumlah kendala operasional yang kerap menjadi sandungan, mulai dari keterbatasan media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), minimnya alat pendukung medis, hingga kesenjangan kompetensi pada personel baru.

Guna mengatasi hal tersebut, KKBS menerapkan "pendekatan sistem" yang memposisikan sumber daya manusia sebagai input utama. Peningkatan kapasitas staf dilakukan melalui metode transfer of knowledge yang komprehensif.

Beberapa pilar pengembangan yang diterapkan meliputi Adult Learning yang mengedepankan dialog dua arah, serta Asset Based Thinking yang menggunakan analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) untuk mengidentifikasi potensi internal. Selain itu, pengembangan keterampilan dilakukan berbasis kompetensi (Competency Based) dan pembelajaran praktik langsung (Learning by Doing Participatory) melalui studi kasus serta simulasi.

Fondasi Spiritual dalam Kerja Teknis

Di luar aspek medis dan teknis, KKBS mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam etos kerja organisasi. Kolaborasi antarstaf diibaratkan sebagai sebuah bangunan; jika kejujuran dan keikhlasan tidak menjadi "semen pengikatnya", maka struktur tersebut rentan runtuh.

Terdapat tiga karakteristik kinerja utama yang kini ditekankan kepada seluruh personel. Pertama adalah transparansi, di mana setiap tanggung jawab harus dapat dipertanggungjawabkan secara publik maupun kepada donor. Kedua, kolaborasi yang mengedepankan komunikasi terbuka untuk memitigasi konflik sektor. Ketiga, kecerdasan spiritual yang memandang setiap amanah kerja sebagai bentuk pengabdian.

Warisan Perjuangan Sejak 1995

Eksistensi KKBS merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang penanggulangan HIV/AIDS di Banyuwangi. Sejak kasus pertama ditemukan pada seorang tenaga kerja yang baru kembali dari Hong Kong pada tahun 1995, dinamika penanganan di "Bumi Blambangan" terus bertransformasi.

Saat ini, di tengah keterbatasan sumber daya manusia di sektor pemerintahan, peran organisasi non-pemerintah seperti KKBS menjadi kian krusial. Melalui pengelolaan Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV—baik secara menetap maupun layanan mobile (jemput bola)—KKBS mampu menjangkau titik-titik krusial yang sering kali sulit ditembus oleh birokrasi formal.

"Kerja ini adalah amanah. Selain ahli secara teknis, setiap staf harus memiliki kemampuan koreksi diri dan berpikir positif agar pesan edukasi yang disampaikan dapat dipercaya oleh masyarakat," pungkas H. Hariadji.

أحدث أقدم
sidoarjofile.com - Menguak Yang Tersembunyi